Banyak orang mencari cara alami menjaga organ hati tanpa mengandalkan suplemen mahal. Di dapur rumah, sejumlah rempah jaga hati justru mudah dijumpai dan bisa disisipkan ke menu harian. Mulai dari kunyit hingga saffron, bahan-bahan ini kerap dibahas karena potensi mendukung metabolisme lemak di hati.
Penumpukan lemak di hati sering tak terasa di awal, namun bila dibiarkan dapat mengganggu fungsi organ. Selain mengatur pola makan dan aktivitas fisik, pilihan bumbu serta minuman harian ikut berperan. Ahli gizi Steven Goldberg, MD, MBA, dan Dr. Tobb Jelsin menyebut beberapa bahan dapur berpotensi membantu mengurangi lemak hati, sebagaimana dikutip dari laporan Woman’s World.
Kunyit dan kurkumin untuk enzim hati
Kunyit mengandung kurkumin yang dalam studi kecil pada manusia dikaitkan dengan penurunan lemak hati serta perbaikan kadar kolesterol dan enzim hati. Agar penyerapan lebih optimal, kunyit sebaiknya dipadukan dengan lada hitam dan sedikit lemak sehat, misalnya minyak zaitun atau santan encer dalam masakan.
Dr. Tobb menilai 1–3 gram bubuk kunyit per hari melalui makanan masih wajar bagi kebanyakan orang dewasa. Kunyit bisa dimasukkan ke kari, sop, tumisan, atau minuman hangat. Yang penting, bahan ini tetap menjadi bagian dari pola makan seimbang, bukan pengganti anjuran medis.
Jahe segar dalam takaran wajar
Pada penelitian hewan, jahe menunjukkan potensi membantu mengatur jumlah lemak yang tersimpan di hati. Manfaat serupa pada manusia masih memerlukan bukti lebih kuat, namun jahe tetap populer sebagai bumbu dan minuman penghangat.
Dr. Goldberg menyarankan penggunaan jahe segar parut dalam teh, tumisan, atau saus salad. Kisaran 2–4 gram jahe segar per hari dinilai masih masuk akal. Dr. Tobb mengingatkan, kelebihan jahe dapat memicu mulas atau gangguan pencernaan, sehingga takaran perlu dijaga.
Teh hijau tanpa gula dan batas suplemen
Teh hijau kaya katekin, antioksidan yang menurut Dr. Goldberg berpotensi membantu mengurangi penumpukan lemak serta peradangan di hati. Kebiasaan minum 2–3 cangkir teh hijau tanpa gula setiap hari bisa menjadi pengganti minuman manis.
Yang perlu dihindari adalah ekstrak teh hijau dosis tinggi dalam bentuk suplemen, karena pernah dikaitkan dengan gangguan hati. Konsumsi dalam bentuk seduhan minuman dinilai lebih aman dibandingkan produk konsentrat berlebihan.
Bawang dan saffron: potensi dari studi awal
Bawang putih dan bawang merah atau bawang bombay, dalam studi laboratorium serta hewan, dinilai berpotensi membantu tubuh mengolah lemak lebih efektif dan mengurangi peradangan di hati. Efek pada manusia masih menunggu penelitian lanjutan, namun keduanya tetap bernilai gizi tinggi di masakan sehari-hari.
Saffron menarik perhatian lewat senyawa Crocin II. Studi terbaru pada tikus menunjukkan senyawa ini berpotensi membuat hati menyimpan lebih sedikit lemak dan membuangnya lebih efisien, sekaligus berkaitan dengan penurunan kadar lemak di darah dan hati. Dr. Goldberg menyarankan saffron dicampur ke nasi, sop, semur, atau teh.
- Kunyit: 1–3 g bubuk per hari, padukan lada hitam dan lemak sehat
- Jahe: 2–4 g segar per hari, waspadai mulas jika berlebih
- Teh hijau: 2–3 cangkir tanpa gula, hindari ekstrak dosis tinggi
- Bawang putih dan bawang merah: sering dipakai di tumisan dan sop
- Saffron: sedikit saja untuk nasi, kuah, atau teh
Bahan-bahan di atas mudah diolah di dapur Indonesia: kunyit dan jahe untuk opor atau jamu ringan, bawang untuk bumbu dasar, teh hijau sebagai minuman sore, serta saffron untuk hidangan spesial. Meski potensinya menjanjikan, hasil riset sebagian masih terbatas pada hewan atau skala kecil, sehingga tidak boleh dianggap obat tunggal.
Menjaga hati tetap membutuhkan tidur cukup, batasi gula dan alkohol, perbanyak sayur, serta konsultasi ke tenaga kesehatan bila ada keluhan. Memasukkan rempah secara rutin hanyalah pelengkap gaya hidup sehat, bukan pengganti diagnosis atau terapi medis.
Sumber: Detik Food.
