RESEP
Indeks
Hidangan Utama

Dari Kantor Teknologi ke Mangkuk Mie: Perjalanan Poh Kang di Petaling Jaya

Minat terhadap wanton mee sering muncul dari mangkuk sederhana yang konsisten rasanya, bukan dari janji karier di balik layar komputer. Di Petaling Jaya, Malaysia, seorang Gen Z bernama Poh Kang memilih jalur itu: meninggalkan industri teknologi informasi dan mengambil alih kedai wanton mee setelah belajar langsung di dapur tanpa menerima gaji.

Bagi pembaca di Indonesia yang akrab dengan mie ayam, pangsit, atau bakmi campur, kisah ini terasa dekat. Yang membedakan adalah detail prosesnya—dari bangun subuh, meracik wanton, hingga mempertahankan panggang char siu di atas arang—yang membuat kedai kecil tetap relevan di tengah pilihan karier formal.

Latar belakang pendidikan dan titik jenuh di industri gim

Poh Kang menempuh pendidikan sekitar empat tahun dengan fokus pengembangan gim. Setelah lulus, ia bekerja lebih dari setahun di bidang tersebut dengan penghasilan yang dianggap layak serta prospek yang menjanjikan. Banyak orang di sekitarnya menilai jalur IT sebagai pilihan paling aman untuk masa depan.

Meski tidak ada konflik di tempat kerja, rasa bosan muncul. Ia mengakui sempat mengikuti arus karena industri teknologi digadang-gadang unggul. Lambat laun ia menyadari ketertarikannya lebih besar pada dunia makanan dan minuman, bukan sekadar layar dan kode.

Akar keluarga pedagang dan peluang kedai wanton mee

Keluarga Poh Kang telah berjualan bak kut teh sekitar empat puluh tahun. Sejak kecil ia melihat ibunya bekerja keras di warung. Bahkan saat masih duduk di bangku sekolah dasar, ia pernah membayangkan menjadi pedagang makanan. Namun beban fisik usaha kaki lima membuatnya sempat memilih jalur profesional di IT.

Titik balik datang ketika ia sering mengunjungi kedai wanton mee dekat rumah. Pemilik kedai mencari penerus karena keluarganya tidak berminat melanjutkan usaha. Dengan dukungan ibunya, Poh Kang memberanikan diri keluar dari pekerjaan tetap dan magang di kedai itu selama kurang lebih empat hingga lima bulan tanpa upah.

  • Bangun sekitar pukul 05.00 untuk belanja bahan dan buka kedai
  • Membuat pangsit wanton serta meracik seluruh komponen mangkuk
  • Mempertahankan char siu panggang arang meski panasnya sulit dikontrol
  • Mengambil alih usaha setelah pemilik pensiun, dengan modal dari tabungan pribadi

Char siu arang dan standar rasa yang tidak boleh longgar

Banyak penjual beralih ke gas karena lebih praktis. Poh Kang tetap memilih arang. Menurutnya, panas arang lebih sulit diatur, tetapi aroma dan cita rasa yang dihasilkan khas. Ia menganggap detail itu bagian dari identitas mangkuk yang dijualnya di Petaling Jaya.

Tantangan terbesar baginya bukan mengejar jumlah porsi sebanyak mungkin. Ia menekankan konsistensi: setiap wanton mee yang keluar harus mendekati harapan pelanggan setia. Masukan pembeli didengar, kecuali jika ada niat mengganggu semata. Pendekatan ini membuat pelanggan lama perlahan kembali dan usaha mencapai titik impas.

Ritme harian, batas sosial, dan pesan untuk yang ingin pindah karier

Bekerja di kedai memberinya ruang untuk berolahraga dan merancang konten seputar usaha. Di sisi lain, waktu bersosialisasi menyusut karena harus aktif sejak pagi. Ia tidak menyangkal pekerjaan ini menguras fisik, meski terasa lebih selaras dengan minatnya.

Poh Kang tidak menganjurkan siapa pun langsung mengundurkan diri hanya karena bosan. Keputusan besar, katanya, butuh rencana: apa yang dikerjakan berikutnya, bagaimana menjalankannya, dan strategi bertahan di fase awal. Untuk saat ini ia belum membidik jaringan cabang besar; fokusnya tetap satu mangkuk wanton mee yang enak sehingga pelanggan ingin kembali.

Bagi pecinta kuliner di Indonesia, kisah ini mengingatkan bahwa restoran atau kedai mie yang bertahan sering ditopang disiplin dapur, bukan hanya tren media sosial. Wanton mee dengan char siu arang, wanton yang rapi, dan porsi yang stabil tetap menjadi alasan orang mengantri—entah di Petaling Jaya maupun di warung-warung yang mengusung semangat serupa di kota-kota Indonesia.

Sumber: Detik Food.

Tag: wanton mee, gen z malaysia, karier kuliner, char siu, petaling jaya, bisnis makanan, mie pangsit, pindah karier