Paparan abu dari erupsi gunung sering membuat warga khawatir daya tahan tubuh menurun. Di tengah situasi seperti itu, memilih pangan penguat imun yang mudah didapat di dapur menjadi langkah praktis agar tubuh tetap tangguh menghadapi iritasi dan risiko sakit.
Gunung Anak Krakatau sempat erupsi beruntun sejak Jumat, 4 September 2026. Abu vulkaniknya sempat menyebar ke sejumlah wilayah, termasuk Jabodetabek, sehingga kualitas udara sempat memburuk. Meski BMKG pada 7 September 2026 sudah tidak lagi mencantumkan Jakarta dalam arah sebaran abu, kewaspadaan tetap dianjurkan karena partikel abu bersifat abrasif dan dapat mengiritasi jaringan tubuh.
Kenapa imunitas perlu dijaga saat abu menyebar
Abu vulkanik mengandung serpihan batuan tajam, mineral, dan kaca mikroskopis. Ketika terhirup atau menempel di saluran napas, partikel tersebut dapat memicu iritasi. Orang dengan daya tahan lemah lebih mudah merasa lelah, batuk, atau mudah terserang infeksi ringan.
Menutup jendela, memakai masker saat di luar, serta membersihkan bahan pangan sebelum diolah memang penting. Di sisi lain, asupan harian yang kaya antioksidan, vitamin, dan mineral ikut menopang kerja sel imun agar tetap responsif.
Jamur kancing dan bayam di meja makan harian
Jamur kancing sering hanya dianggap pelengkap tumisan atau sup. Padahal, jamur ini menyuplai selenium serta vitamin B seperti riboflavin dan niasin. Kadar selenium yang memadai dikaitkan dengan ketahanan tubuh terhadap infeksi saluran napas ringan, sementara vitamin B mendukung kinerja sel darah putih.
Bayam melengkapi piring sayur dengan asam folat untuk pembentukan sel baru, plus vitamin A dan C. Flavonoid serta karotenoid di dalamnya membantu meredam dampak radikal bebas sehingga peradangan tidak mudah berlarut. Cukup rebus sebentar atau sajikan segar sebagai lalapan agar nutrisinya tetap terjaga.
Semangka, teh, dan bawang putih sebagai sekutu imun
Semangka bukan sekadar pelega dahaga. Buah ini mengandung antioksidan glutathione yang mendukung pembentukan sel darah putih. Bagian daging yang dekat kulit biasanya lebih kaya senyawa tersebut, cocok disajikan dingin setelah aktivitas di luar ruangan.
Teh putih, hijau, maupun hitam membawa polifenol dan flavonoid. Senyawa ini membantu menetralkan radikal bebas dan meredakan peradangan ringan sehingga sistem imun bekerja lebih optimal. Seduh tanpa gula berlebih agar manfaatnya tidak terpotong oleh asupan manis berlebihan.
Bawang putih mentah menyimpan alisin beserta vitamin C dan B6. Kombinasi itu berpotensi menekan pertumbuhan bakteri, virus, dan jamur, sekaligus melindungi sel imun dari kerusakan oksidatif. Gunakan siung segar, bukan hanya bubuk, agar senyawa aktifnya lebih terasa.
Cara menyajikan tanpa ribet di dapur rumah
Kelima bahan di atas bisa digabung dalam menu sederhana: tumis jamur kancing, sup bayam bening, potongan semangka sebagai pencuci mulut, teh hangat sore hari, dan bawang putih cincang pada sambal atau tumisan. Tidak perlu porsi besar; yang penting konsisten dan bahan dicuci bersih, terutama saat debu vulkanik masih beredar.
- Cuci sayur, buah, dan jamur dengan air mengalir sebelum diolah.
- Masak bayam dan jamur sebentar agar tekstur dan zat gizi tidak rusak berlebih.
- Hindari pemanis berlebihan pada teh dan jus semangka.
- Pilih bawang putih utuh yang masih segar untuk aroma dan manfaat maksimal.
Menjaga imun bukan berarti menumpuk suplemen mahal. Memilih pangan penguat imun yang sudah akrab di dapur, ditambah kebiasaan higienis saat udara kurang bersahabat, sudah menjadi fondasi yang masuk akal bagi keluarga. Tetap pantau informasi resmi soal sebaran abu, batasi aktivitas luar jika kualitas udara buruk, dan prioritaskan istirahat cukup.
Sumber: Detik Food.
