Di tengah maraknya tren kebugaran di kota-kota besar Indonesia, lagree pilates mulai banyak dibicarakan sebagai opsi latihan yang terasa menantang namun tetap ramah pada sendi. Metode ini memadukan prinsip kekuatan, elemen kardio, dan kontrol ala pilates dalam satu sesi berintensitas tinggi dengan dampak rendah, biasanya memakai mesin khusus bernama Megaformer.
Berbeda dari citra pilates klasik yang sering diasosiasikan hanya dengan postur dan kelenturan, pendekatan Lagree menuntut otot tetap bekerja dalam rentang waktu lebih panjang. Gerakan dilakukan perlahan, istirahat antar set relatif singkat, sehingga daya tahan dan stabilitas ikut teruji tanpa mengandalkan lompatan atau benturan berulang.
Asal metode dan peran Sebastien Lagree
Metode ini dikembangkan Sebastien Lagree dengan menyatukan unsur pilates, latihan kekuatan, dan kardio. Tujuannya bukan sekadar memperpanjang rangkaian gerakan mobilitas, melainkan menciptakan tantangan otot yang berkelanjutan dalam format low-impact. Karena itu, banyak peserta merasakan sesi yang padat meski lantai studio tidak dipenuhi gerakan plyometrik.
Fokus utamanya ada pada ketegangan otot yang dipertahankan, kontrol posisi tubuh, serta aktivasi banyak kelompok otot sekaligus. Bagi pembaca yang biasa membagi hari antara latihan beban dan kardio terpisah, format gabungan ini sering dianggap efisien karena beberapa kualitas fisik dilatih dalam satu kelas.
Cara kerja mesin Megaformer
Megaformer dirancang khusus untuk mendukung protokol Lagree. Perangkat ini mengandalkan carriage yang dapat bergeser, pegas dengan resistensi yang disesuaikan, plus pegangan dan platform sebagai titik tumpu. Saat carriage bergerak, tubuh menghadapi ketidakstabilan terkendali sehingga otot penstabil dan inti harus aktif menjaga keseimbangan.
Instruktur biasanya mengatur beban pegas sesuai level peserta. Resistensi bisa dikurangi untuk pembiasaan teknik atau ditingkatkan ketika kontrol sudah lebih matang. Tempo lambat membuat setiap repetisi terasa berat di otot, bukan di sendi melalui hentakan. Kombinasi itu menargetkan kekuatan, daya tahan, koordinasi, dan kontrol dalam satu rangkaian.
- Carriage bergerak menciptakan tantangan keseimbangan
- Pegas memberi resistensi yang bisa diubah
- Gerakan multikelompok otot, bukan isolasi tunggal
- Istirahat singkat menjaga intensitas sesi
Megaformer dan reformer: mirip bentuk, beda penekanan
Secara kasatmata, Megaformer dan pilates reformer sama-sama punya carriage, pegas, serta menekankan kontrol. Kesamaan bentuk itu sering membuat pemula mengira tujuannya identik. Padahal penekanannya berbeda. Megaformer diarahkan pada kekuatan, daya tahan otot, dan intensitas dengan jeda pendek serta ketegangan yang dijaga lebih lama.
Reformer tradisional cenderung menitikberatkan postur, mobilitas, fleksibilitas, kualitas napas, dan ketepatan gerak. Alat ini juga kerap dipakai pada latihan dasar hingga konteks yang lebih restoratif. Tidak ada yang mutlak unggul; pilihan mengikuti sasaran. Siapa yang mengejar tantangan kekuatan-daya tahan cenderung ke Megaformer, sementara yang mengutamakan mobilitas dan prinsip pilates klasik lebih cocok pada reformer.
Langkah aman memulai di studio
Memulai Lagree tidak berarti langsung mengambil variasi tersulit. Karena platform bergerak dan pegas memberi beban, teknik tubuh menjadi fondasi. Langkah praktis pertama adalah memilih studio yang memang menyediakan Megaformer serta instruktur yang mampu mengoreksi posisi dan mengatur resistensi. Pemula disarankan bertahan di level sesuai kemampuan sebelum menambah tantangan.
Konsistensi lebih berharga daripada sesi sporadis yang terlalu agresif. Banyak praktisi menjaga frekuensi sekitar dua hingga tiga kali seminggu agar ada ruang pemulihan. Pola makan seimbang dan tidur cukup mendukung adaptasi otot setelah kelas yang menuntut kontrol tinggi. Inti Lagree bukan kecepatan menyelesaikan gerakan, melainkan ketepatan menahan dan mengarahkan setiap fase gerak.
Bagi warga urban yang mencari latihan intens tanpa benturan berulang pada lutut atau pergelangan, format low-impact ini menarik untuk dipertimbangkan. Pastikan progres bertahap, dengarkan sinyal tubuh, dan jadikan koreksi instruktur sebagai panduan utama agar Megaformer menjadi bagian rutin kebugaran yang berkelanjutan, bukan sekadar tren sesaat.
Sumber: Liputan6.
