RESEP
Indeks
Camilan

Jejak Bubble Tea di Indonesia: Dari Taiwan 1980-an hingga Demam 2019

Demam boba 2019 sempat meramaikan pusat perbelanjaan dan kawasan perkantoran di berbagai kota Indonesia, jauh sebelum matcha dan ube mendominasi unggahan media sosial. Minuman teh berpadu susu dengan bola tapioka kenyal itu menjadi pilihan anak muda yang mudah dijumpai di gerai-gerai waralaba. Kini, ketika selera publik beralih, kenangan masa kejayaan bubble tea kembali dibicarakan netizen.

Fenomena tersebut menarik untuk dilacak karena bubble tea bukan sekadar tren sesaat. Minuman ini punya akar panjang di Taiwan dan kemudian menyebar ke Asia hingga Amerika, sebelum akhirnya memuncak di pasar lokal dengan harga yang relatif terjangkau.

Asal-usul di Taichung yang lahir tanpa rencana

Bubble tea bermula di Chun Shui Tang Teahouse, Taichung, pada era 1980-an. Liu Han Chieh, sang pendiri, terinspirasi menyajikan teh China dalam kondisi dingin setelah melihat kopi dingin saat bepergian ke Jepang. Ide teh dingin itu menjadi fondasi sebelum topping kenyal masuk ke dalam gelas.

Titik balik terjadi sekitar 1988, ketika Lin Hsiu Hui, manajer pengembangan produk di tempat yang sama, iseng menuangkan fen yuan—bola tapioka khas Taiwan—ke es teh Assam saat rapat. Perpaduan tak terduga itu terasa nikmat dan kelak dikenal luas sebagai bubble tea. Ciri utamanya tetap sama: teh yang bisa dipadu susu atau bahan lain, lalu dilengkapi pearls manis dan kenyal.

Perluasan merek dari Taiwan ke jaringan global

Dari Taiwan, popularitas minuman ini merembet ke banyak negara. Sejumlah merek tumbuh menjadi jaringan internasional dan memudahkan konsumen mengenali boba di luar negeri maupun di tanah air.

Gong Cha didirikan di Kaohsiung pada 2006 dan dikenal luas di berbagai pasar. KOI berawal di Taipei sejak 1994 dan membuka cabang di Singapura, Thailand, Vietnam, Malaysia, Kamboja, Myanmar, hingga Indonesia. CoCo muncul di Tamsui pada 1997 berkat Tommy Hung. Chatime, yang juga akrab di telinga masyarakat Indonesia, berkembang menjadi salah satu waralaba tea house terbesar dengan lebih dari 2.500 gerai di 38 negara, mencakup Filipina, Kanada, Malaysia, China, Amerika Serikat, Jepang, Korea Selatan, Bangladesh, Thailand, dan Indonesia.

  • Gong Cha — Kaohsiung, 2006
  • KOI — Taipei, 1994
  • CoCo — Tamsui, 1997
  • Chatime — jaringan luas di puluhan negara

Puncak popularitas boba di Indonesia sekitar 2019

Di Indonesia, boba mencapai masa keemasan sekitar 2019. Gerai bubble tea bermunculan di mal dan area perkantoran, sementara bola tapioka menjadi topping yang paling diburu. Harga rata-rata yang mulai dari kisaran Rp15.000 membuat minuman ini aksesibel bagi banyak kalangan, bukan hanya di kota besar.

Kehadiran merek-merek Taiwan tersebut mempercepat penetrasi pasar. Konsumen terbiasa memesan varian teh susu, level gula, dan takaran ice sesuai selera, sehingga boba terasa personal sekaligus praktis untuk dinikmati bersama teman.

Nostalgia di media sosial dan pergeseran tren rasa

Seiring waktu, tren minuman kekinian bergeser. Matcha dan ube belakangan lebih sering muncul di etalase gerai dan unggahan media sosial. Meski demikian, nostalgia terhadap masa kejayaan boba kembali menghangat. Salah satu pemicu percakapan adalah unggahan akun TikTok @3shadumps pada 20 Agustus yang mengajak warganet mengingat kembali periode ketika antrean bubble tea menjadi pemandangan biasa.

Pergantian tren justru memperlihatkan bahwa selera publik dinamis. Boba tidak hilang sepenuhnya; ia tetap tersedia di banyak outlet, hanya saja sorotan publik berpindah ke rasa lain yang sedang naik daun. Bagi pembaca yang ingin menyajikan minuman serupa di rumah, memahami sejarah singkat ini membantu menghargai kenyalnya pearls dan racikan teh yang sudah diuji puluhan tahun.

Ringkasnya, bubble tea lahir dari eksperimen sederhana di Taiwan era 1980-an, tumbuh lewat merek-merek global, lalu memuncak di Indonesia sekitar 2019 dengan harga ramah kantong. Sebelum matcha dan ube viral, demam boba 2019 sudah menandai bab penting dalam peta minuman kekinian tanah air.

Sumber: Detik Food.

Tag: bubble tea, boba 2019, minuman kekinian, sejarah boba, chatime, teh susu, tren foodie, tapioka