RESEP
Indeks
Tips Saji

2.053 Buku Kreator Cilik Tampil di Karya Raya 2026 Jakarta

Gelaran Karya Raya 2026 kembali menegaskan bahwa imajinasi anak layak mendapat panggung publik. Tahun ini tercatat 2.053 karya buku dari kreator cilik dipamerkan, angka yang menandai lonjakan partisipasi sekaligus keberanian anak menempatkan diri sebagai pencipta, bukan hanya pembaca.

Pertemuan pers di Jakarta pada Jumat, 11 September 2026, menjadi momen penegasan capaian itu. Ruang kreatif anak tidak lagi terbatas pada meja belajar atau dinding kamar; coretan, cerita, dan ilustrasi sederhana kini dibuka untuk dilihat masyarakat luas.

Lonjakan karya dari tahun ke tahun

Pertumbuhan partisipasi terlihat jelas bila dilacak ke belakang. Pada 2023 tercatat 638 buku, kemudian 1.081 buku di 2024, dan 1.870 buku di 2025. Angka 2.053 pada 2026 menempatkan edisi kali ini sebagai puncak kuantitas sekaligus sinyal bahwa semakin banyak anak menemukan identitas kreator dalam dirinya.

Co-Founder Karya Raya, Ernest Junius Wiyanto, menekankan makna di balik statistik. Menurutnya, yang lebih penting daripada rekor jumlah adalah semakin banyak anak yang menyadari diri sebagai pembuat karya. Proses menemukan ide, menyusun alur, menyelesaikan naskah, lalu berani menunjukkannya kepada orang lain menjadi latihan percaya diri yang berulang.

Tema kebaikan dan tumbuhnya kreativitas

Tema Karya Raya 2026, Garden of Kindness: Where Creativity Grows on You, menempatkan proses kreatif sebagai kebun yang dirawat. Gagasan tidak dibiarkan mengendap; ia digarap, dibagikan, dan dihargai. Ketika goresan anak mendapat apresiasi, ia mulai melihat dirinya sebagai pelukis. Ketika tulisan menyentuh pembaca, ia mengenal diri sebagai penulis.

Pengalaman itu membentuk cara anak memandang kemampuan sendiri. Karya yang semula hanya disimpan di laci berubah menjadi objek yang punya nilai sosial. Dari situlah dorongan untuk mencoba lagi dan menghasilkan karya berikutnya biasanya tumbuh.

Cerita anak yang membawa pesan dalam

Karya anak sering tampak ringan di permukaan, namun dapat menyimpan sudut pandang tentang kehidupan. Pendongeng dan penyiar senior Gery Saleh Puraatmadja atau Paman Gery menilai menyusun cerita melatih fungsi kognitif secara nyata. Anak belajar merangkai pengalaman menjadi gagasan utuh, memilih tokoh, dan menata sebab-akibat.

Salah satu contoh yang disorot adalah karya Kea Atalia Nitisara dari SDN Penabur Harapan Indah. Lewat kisah bertema serangga, kekuatan narasi justru terletak pada gagasan bahwa setiap makhluk punya hasrat dan hak untuk hidup bebas—pesan yang kerap luput dari perhatian orang dewasa.

  • Menemukan ide dari lingkungan sehari-hari
  • Mengembangkan alur hingga karya selesai
  • Berani memamerkan hasil kepada publik
  • Menerima apresiasi sebagai peneguh identitas kreator

Perpustakaan sebagai rumah karya anak

Kehadiran di ruang publik menjadi bagian inti edisi ini. Kepala Unit Pengelola Perpustakaan Jakarta dan PDS HB Jassin, Diki Lukman Hakim, memandang perpustakaan bukan sekadar tempat meminjam buku, melainkan rumah bagi karya anak. Semangat itu diwujudkan lewat pameran di Perpustakaan Jakarta yang berlangsung 11 September hingga 2 Oktober 2026.

Karya Raya 2026 digelar bersama Perpustakaan Jakarta dan Bookabook.id. Pengunjung dapat membaca langsung hasil kreativitas anak, sementara para kreator cilik memperoleh pengalaman bahwa ide dalam buku mereka layak mendapat perhatian. Ruang apresiasi seperti ini menutup jarak antara imajinasi pribadi dan pengakuan sosial.

Dengan jadwal pameran yang terbuka hingga awal Oktober, masyarakat Jakarta punya kesempatan menyaksikan sendiri bagaimana kebun kebaikan dan kreativitas itu dirawat—satu buku, satu cerita, dan satu anak pada satu waktu. Bagi keluarga, momen ini bisa menjadi pengingat sederhana: apresiasi kecil pada coretan hari ini sering menjadi akar kepercayaan diri di kemudian hari.

Sumber: Liputan6.

Tag: karya raya 2026, buku anak, kreator cilik, perpustakaan jakarta, kreativitas anak, pameran buku, imajinasi anak