Perbincangan soal tagihan kencan kembali menghangat setelah seorang influencer TikTok menegaskan bahwa pria selayaknya menanggung biaya makan saat bertemu pasangan. Di portal Piring Saji, isu ini menarik karena menyentuh kebiasaan makan di luar, etika restoran, dan cara pasangan memaknai kebersamaan di meja makan tanpa mengorbankan rasa adil.
Pernyataan itu disampaikan Becca Bloom lewat akun @beccaxbloom. Video pendeknya meraih sekitar 1,4 juta likes dan memancing komentar beragam, dari yang mendukung hingga yang menilai pandangannya terlalu bias. Inti argumennya: membagi nota 50-50 tidak otomatis sama dengan kesetaraan sejati.
Alasan di Balik Usulan Pria Menanggung Nota
Becca menilai kondisi sosial-ekonomi pria dan wanita masih timpang. Ia mengaitkan kebiasaan patungan kaku dengan kesenjangan pendapatan. Menurutnya, perempuan yang bekerja penuh waktu rata-rata memperoleh sekitar 80 persen dari penghasilan pria pada pekerjaan sejenis, sehingga beban yang “sama persis” di meja makan bisa terasa berat sebelah.
Ia juga menyinggung biaya penampilan. Tuntutan sosial membuat banyak perempuan menganggarkan perawatan diri dan kecantikan hingga kisaran Rp7 jutaan per bulan. Dari sudut pandang itu, mengajak pasangan makan tanpa mempertimbangkan pengeluaran tersembunyi sebelum sampai restoran dianggap kurang peka.
Keamanan dan Etika Makan di Luar
Selain uang, aspek rasa aman ikut dibahas. Becca menyinggung risiko yang dihadapi perempuan saat berkencan, termasuk langkah berjaga-jaga seperti membagikan lokasi kepada teman atau membawa perlengkapan pengaman diri. Dalam konteks hidangan di ruang publik, rasa nyaman di restoran tidak hanya soal menu, tetapi juga siapa yang mengatur alur pertemuan dan pembayaran.
Bagi pasangan di Indonesia, praktik di warung hingga restoran formal sering berbeda-beda: ada yang bergantian, ada yang pria membayar di awal hubungan, ada pula yang memisahkan nota sejak kencan pertama. Yang penting, kesepakatan dibicarakan sebelum pesanan ditutup agar pelayan dan suasana meja tidak terganggu.
Respons Warganet yang Terbelah
Di kolom komentar, sebagian pengguna menilai poin Becca tetap relevan meski ia dikenal memiliki kekayaan besar. Ada pula yang menekankan prinsip saling memberi: bergantian menanggung makanan dinilai lebih sehat ketimbang memaksa bagi dua setiap kali, apalagi jika statusnya sudah pacaran.
Kritik muncul dari mereka yang menganggap pilihan bayar harus netral gender. Bagi kelompok ini, kemampuan finansial individu, bukan jenis kelamin, yang patut jadi acuan. Perdebatan itu menunjukkan soal tagihan kencan jarang murni soal angka; ia menyentuh ekspektasi budaya, gengsi, dan cara pasangan menafsirkan perhatian.
- Bicarakan patungan atau treat sebelum memesan menu.
- Sesuaikan pilihan resto dengan budget yang disepakati bersama.
- Hormati preferensi pasangan tanpa memaksakan satu rumus untuk semua.
Menyikapi Debat di Meja Makan Sehari-hari
Angka kesenjangan upah yang disebut Becca biasanya merujuk data median di Amerika Serikat, sehingga perlu dibaca dengan konteks, bukan disalin mentah ke setiap pasangan. Di tanah air, keputusan siapa bayar lebih sering ditentukan komunikasi, fase hubungan, dan kebiasaan keluarga masing-masing.
Bagi pembaca Piring Saji, intinya sederhana: kencan tetap soal menikmati hidangan dan kebersamaan. Apakah nota ditanggung satu pihak, digilir, atau dipotong dua, yang membuat suasana enak adalah kejelasan dan rasa hormat. Hindari drama di kasir; utamakan kesepakatan yang membuat kedua belah pihak nyaman pulang.
Pada akhirnya, viralnya pendapat Becca Bloom justru membuka ruang bicara sehat soal uang, penampilan, dan keamanan sebelum pasangan duduk memesan makanan. Selama fakta ekonomi dan kebutuhan pribadi dihargai, tidak ada satu formula mutlak yang wajib dipakai semua orang.
Sumber: Detik Food.
