RESEP
Indeks
Hidangan Utama

Keluhan Rasa Hambar Menu Ikan di Singapore Airlines Picu Perbincangan Penumpang

Menu ikan SIA kembali jadi sorotan setelah seorang penumpang kelas ekonomi mengaku kecewa dengan rasa hidangan yang disajikan di penerbangan jarak jauh. Pengalaman itu dibagikan di media sosial dan memicu diskusi soal konsistensi katering maskapai yang selama ini sering dipuji.

Peristiwa tersebut terjadi pada penerbangan dari Bandara Heathrow, London, menuju Singapura. Penumpang anonim duduk di bagian belakang kabin ekonomi sehingga termasuk kelompok terakhir yang menerima makanan. Saat giliran tiba, opsi daging sapi sudah habis sehingga ia memilih sajian ikan.

Tampilan porsi dan keluhan rasa di kabin belakang

Dari foto yang diunggah, porsi terdiri atas potongan ikan kukus berbalut saus oranye, kacang panjang, dan mashed potato. Menurut penumpang tersebut, rasa ikan terasa hambar dan hidangan terasa terlalu berat untuk dikonsumsi di pesawat.

Keluhan tidak berhenti di menu utama. Ia menyebut sajian sarapan berikutnya bahkan lebih mengecewakan: mie dengan daging sapi yang kering, saus minim, serta potongan daging berukuran kecil. Pengalaman beruntun itu membuat penilaiannya terhadap katering turun tajam meski ia tetap memuji kursi dan layanan ekonomi secara umum.

Unggahan Facebook dan pertanyaan soal peringkat maskapai

Cerita itu muncul di laman Facebook Flight & Travel Explorer pada Rabu, 2 September. Penumpang menanyakan apakah kualitas makanan yang buruk bisa menurunkan penilaian sebuah maskapai dari angka sempurna menjadi jauh lebih rendah, dari 10 ke kisaran 7.

Ia menegaskan Singapore Airlines menawarkan layanan dan tempat duduk kelas ekonomi terbaik yang pernah dirasakannya. Namun, menurutnya, katering mengubah potensi penerbangan kelas dunia menjadi pengalaman yang hanya terasa “baik” saja. Subjektivitas selera tetap diakui, tetapi ekspektasi tinggi terhadap SIA membuat kekecewaan terasa lebih besar.

Tanggapan warganet yang terbelah

Unggahan tersebut menarik banyak komentar. Sebagian pembaca mengaku pernah menemui kualitas katering yang fluktuatif di bandara luar kota, terlepas dari merek maskapai. Ada pula yang menekankan bahwa katering yang disiapkan di Singapura biasanya jauh lebih memuaskan.

Di sisi lain, penumpang yang menempuh rute serupa keesokan harinya justru memberi ulasan sebaliknya. Mereka menyebut kari ayam enak dan pasta udang lezat, dengan catatan kabin saat itu tidak penuh. Perbedaan isi piring dan waktu pelayanan tampak menjadi faktor yang memengaruhi persepsi rasa di udara.

  • Pilihan daging habis di barisan belakang memaksa opsi ikan.
  • Tekstur dan bumbu saus menjadi titik kritis penilaian.
  • Menu sarapan dinilai lebih kering dan minim saus.
  • Pengalaman penumpang lain di rute sama bisa sangat berbeda.

Konteks pembaruan menu Singapore Airlines

Pada Maret 2024, Singapore Airlines mengumumkan perluasan pilihan makanan untuk kelas premium maupun ekonomi. Rangkaian baru mencakup ratusan item: sekitar 175 hidangan utama, 48 pembuka, dan 34 penutup. Di antara yang ditonjolkan terdapat nasi lemak dengan rendang ayam, beef bourguignon, hingga slow braised lamb ragout.

Bagi pembaca di Indonesia yang sering mempertimbangkan SIA untuk rute regional maupun jarak jauh, kisah ini menjadi pengingat bahwa reputasi katering tetap bergantung pada rute, lokasi dapur mitra, urutan penyajian, dan ketersediaan stok di kabin. Selera pribadi serta kondisi penciuman di ketinggian kabin juga turut memainkan peran.

Sebagai penutup, keluhan rasa hambar pada menu ikan tidak serta-merta meniadakan pujian panjang terhadap layanan SIA, tetapi menegaskan pentingnya konsistensi bumbu, kelembapan saus, dan rotasi stok di kelas ekonomi. Penumpang yang peduli kuliner pesawat sebaiknya memantau pilihan pra-pesanan bila tersedia dan menyiapkan ekspektasi realistis saat duduk di barisan belakang.

Sumber: Detik Food.

Tag: makanan pesawat, Singapore Airlines, menu ikan, katering maskapai, kelas ekonomi, hidangan penerbangan, ulasan penumpang