RESEP
Indeks
Tips Saji

Festival Kreatif di JICC Bahas Ulang Peran Manusia Saat AI Melaju Kencang

Gelaran IdeaFest 2026 kembali menyapa Jakarta dengan fokus kata kunci alami pada pertanyaan sederhana namun mendesak: di tengah laju Artificial Intelligence, apa yang membuat manusia tetap tak tergantikan? Festival kreatif tahunan ini mengangkat tema Re:Humanize dan berlangsung pada 4–6 September 2026 di Jakarta International Convention Center, Senayan, Jakarta Selatan.

Edisi ke-15 ini tidak hanya memamerkan kecanggihan mesin. Panitia menempatkan kreativitas, empati, koneksi sosial, dan pengalaman hidup sebagai poros percakapan, supaya teknologi dipahami sebagai perluasan potensi, bukan penghapus identitas manusia.

Tema yang lahir dari kebutuhan komunitas kreatif

Ben Soebiakto, Co-Chair IdeaFest, menekankan bahwa Re:Humanize merupakan ajakan untuk memahami posisi manusia di dalam gelombang teknologi. Ia mengingatkan perjalanan panjang festival yang telah mempertemukan lebih dari 2.500 pembicara melalui seribu-an sesi dan menyapa lebih dari 200.000 pengunjung.

Evaluasi IdeaFest 2025 bersama Populix turut menjadi pijakan. Audiens dinilai menginginkan bahasan lebih dalam soal industri kreatif, termasuk cara manusia dan AI berjalan berdampingan. Dari situ, AI tidak digambarkan sebagai pengganti, melainkan bagian perubahan yang mesti dikelola dengan bijak.

Skala acara dan ragam percakapan

Tahun ini disiapkan lebih dari 500 pembicara dalam 160-an sesi IdeaTalks, dilengkapi experiential activations, creative marketplace, serta kolaborasi lintas industri. Latar belakang narasumber merentang dari teknologi, bisnis, hiburan, budaya, komunitas, hingga pelaku kreatif.

Sejumlah nama yang dijadwalkan hadir antara lain Tom Lembong, Najwa Shihab, Tony Fernandes, Boon Ken Wong, Pandji Pragiwaksono, Kamila Andini, Dian Sastrowardoyo, Jovial da Lopez, Sherina Munaf, Veronica Utami, Agnes Rahajeng, Herald van der Linde, Vikram Sinha, dan Kavindra Airlangga. Keragaman itu mengarahkan diskusi ke dampak AI pada cara berkarya, berbisnis, membangun budaya, dan berinteraksi.

  • Kurasi konten berangkat dari pertanyaan: bagaimana manusia tetap menjadi pusat.
  • Sesi tidak berhenti pada cara kerja algoritma, tetapi pada makna dan arah karya.
  • Aktivasi pengalaman dan pasar kreatif melengkapi panggung diskusi.

Data pekerja dan peluang ekonomi kreatif

Relevansi tema diperkuat data PwC: 69 persen pekerja di Indonesia telah memakai AI untuk pekerjaan dalam setahun terakhir, sementara 16 persen menggunakannya setiap hari. Di sisi lain, Kementerian Ekonomi Kreatif mencatat sekitar 185 juta pengguna internet dan 139 juta pengguna media sosial di tanah air.

Sektor ekonomi kreatif sendiri berkontribusi lebih dari Rp1.500 triliun terhadap PDB nasional dan menyerap lebih dari 26,5 juta tenaga kerja. Angka-angka itu membuka ruang besar bagi pemanfaatan AI, selama manusia tetap menentukan tujuan, etika, dan dampaknya.

AI sebagai enabler, arah tetap di tangan manusia

Firdza Radiany, Content Lead dan BrainTrust IdeaFest, menjelaskan kurasi tahun ini berangkat dari upaya menjaga manusia sebagai pusat di tengah teknologi yang kian cepat. Ovidia Nomia, SVP-Head of Corporate Communications Indosat Ooredoo Hutchison, menilai AI mempercepat kerja dan membuka inovasi, namun manusialah yang menetapkan arah serta dampaknya.

Galih Sulistyaningra, CEO dan Co-Founder Smartick Indonesia, menambahkan bahwa AI dapat mempercepat proses kreatif dan memperluas eksplorasi ide. Meski demikian, perspektif, emosi, intuisi, dan pemahaman konteks tetap menjadi penentu karya yang punya identitas. Re:Humanize pada akhirnya menjadi pengingat bahwa kecepatan mesin baru berarti bila diimbangi empati dan makna yang hanya dimiliki manusia.

Bagi pembaca yang mengikuti perkembangan industri kreatif di Jakarta dan kota-kota lain, rangkaian sesi di JICC ini layak dicermati sebagai ruang bertemu gagasan, bukan sekadar pameran alat baru. Menjaga manusia sebagai pengarah tetap menjadi inti agar inovasi terasa relevan dan manusiawi.

Sumber: Liputan6.

Tag: IdeaFest 2026, Re:Humanize, industri kreatif, kecerdasan buatan, JICC Jakarta, festival kreatif, ekonomi kreatif, peran manusia